Inovasi Molekuler Indonesia Dorong Terobosan Nanomedicine untuk Penyakit Degeneratif melalui Teknologi IGDS

- Penulis

Senin, 6 Juli 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua RAHO (Reverse Aging and Homeostasis Club), dalam sebuah wawancara mendalam bersama Helmy Yahya yang ditayangkan melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.

Ketua RAHO (Reverse Aging and Homeostasis Club), dalam sebuah wawancara mendalam bersama Helmy Yahya yang ditayangkan melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.

Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) terus memperkuat perannya sebagai pusat riset dan pengembangan nanomedicine nasional melalui pengembangan Intelligent Gas Delivery System (IGDS), sebuah teknologi pengantaran gas berbasis nanobubble yang dirancang untuk menjangkau pembuluh darah mikro (mikrokapiler) yang selama ini sulit disentuh oleh teknologi medis konvensional.Pemaparan mengenai teknologi ini disampaikan oleh Bapak Kan Eddy, Ketua RAHO (Reverse Aging and Homeostasis Club), dalam sebuah wawancara mendalam bersama Helmy Yahya yang ditayangkan melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Wawancara tersebut mengulas latar belakang ilmiah, pengalaman klinis awal, serta visi pengembangan teknologi IGDS sebagai inovasi kesehatan berbasis sains karya anak bangsa.

Teknologi IGDS dikembangkan oleh tim ilmuwan Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Sutiman Bambang Sumitro, bersama Prof. Widodo, Prof. Aulanni’am, dan Prof. Ahmad Sabarudin. Riset ini berangkat dari pemahaman bahwa banyak penyakit degeneratif—seperti stroke, kanker, Parkinson, dan demensia—memiliki akar masalah yang sama, yaitu hipoksia, atau kekurangan oksigen di tingkat sel.Menurut Kan Eddy, IGDS bekerja dengan mengantarkan gas dalam ukuran nano (sekitar 80–100 nanometer) langsung ke jaringan yang mengalami gangguan mikrosirkulasi. Dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari sel darah merah, nanobubble mampu menembus mikrokapiler yang menyempit atau tersumbat akibat inflamasi dan proses penuaan.

Baca Juga :  Institut Molekul Indonesia Perkenalkan Terapi Gelembung Nano Hidrogen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

“Masalah utama banyak penyakit bukan semata kerusakan organ, tetapi terganggunya distribusi oksigen dan nutrisi ke sel. IGDS dirancang untuk menjawab masalah ini secara langsung,” ujar Kan Eddy dalam wawancara tersebut.

Pendekatan Multigas untuk Menjaga Homeostasis Sel

Berbeda dari terapi oksigen konvensional, IGDS menggunakan pendekatan multigas, termasuk oksigen dan hidrogen. Oksigen berperan sebagai sumber utama produksi energi sel (ATP), sementara hidrogen dikenal sebagai antioksidan selektif yang membantu menekan stres oksidatif akibat reaksi berlebihan oksigen di dalam tubuh.

Pendekatan ini dinilai penting karena oksigen, meskipun esensial bagi kehidupan sel, juga dapat memicu kerusakan jika tidak diimbangi oleh mekanisme pengendalian radikal bebas. Dalam konteks ini, hidrogen berperan menjaga keseimbangan redoks dan mendukung proses pemulihan seluler.

Dari Riset ke Komunitas: Model Gotong Royong

Seluruh kegiatan riset dan penerapan awal IGDS berlangsung dalam ekosistem RAHO Club, sebuah komunitas berbasis gotong royong yang kini telah memiliki lebih dari 21.000 anggota di berbagai wilayah Indonesia. IMI berperan sebagai pusat riset dan pengembangan ilmiah, sementara RAHO menjadi wadah penerapan riset secara sosial dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Institut Molekul Indonesia Perkenalkan Terapi Gelembung Nano Hidrogen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Model ini memungkinkan riset dikembangkan secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada industri farmasi besar, sekaligus membuka akses terapi bagi masyarakat lintas latar belakang melalui skema subsidi silang.

Menuju Pengakuan Global

Teknologi IGDS telah memperoleh paten nasional dan saat ini berada dalam proses paten internasional atau Patent Cooperation Treaty (PCT) di bawah World Intellectual Property Organization (WIPO). Hasil international searching menunjukkan bahwa pendekatan serupa belum ditemukan sebelumnya, membuka peluang Indonesia menjadi salah satu pelopor global dalam bidang nanomedicine berbasis gas. IMI menegaskan bahwa seluruh riset terus dikembangkan secara bertahap dan bertanggung jawab, dengan pendekatan ilmiah serta etika riset yang ketat.

“Ini bukan sekadar teknologi, tetapi upaya membangun kedaulatan riset kesehatan Indonesia,” tegas Kan Eddy.

Dengan menggabungkan fisika nano, biologi molekuler, dan semangat gotong royong, Inovasi Molekuler Indonesia menempatkan diri sebagai motor penggerak inovasi kesehatan nasional yang berorientasi pada solusi ilmiah dan kebermanfaatan sosial.

Follow WhatsApp Channel oetama.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Institut Molekul Indonesia Perkenalkan Terapi Gelembung Nano Hidrogen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 16:09 WIB

Inovasi Molekuler Indonesia Dorong Terobosan Nanomedicine untuk Penyakit Degeneratif melalui Teknologi IGDS

Senin, 6 Juli 2026 - 16:06 WIB

Institut Molekul Indonesia Perkenalkan Terapi Gelembung Nano Hidrogen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Berita Terbaru

Kelautan

KKP Kembangkan Model Kolaborasi Konservasi Penyu di Anambas

Senin, 6 Jul 2026 - 16:44 WIB