Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) terus memperkuat perannya sebagai pusat riset dan pengembangan nanomedicine nasional melalui pengembangan Intelligent Gas Delivery System (IGDS), sebuah teknologi pengantaran gas berbasis nanobubble yang dirancang untuk menjangkau pembuluh darah mikro (mikrokapiler) yang selama ini sulit disentuh oleh teknologi medis konvensional.Pemaparan mengenai teknologi ini disampaikan oleh Bapak Kan Eddy, Ketua RAHO (Reverse Aging and Homeostasis Club), dalam sebuah wawancara mendalam bersama Helmy Yahya yang ditayangkan melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Wawancara tersebut mengulas latar belakang ilmiah, pengalaman klinis awal, serta visi pengembangan teknologi IGDS sebagai inovasi kesehatan berbasis sains karya anak bangsa.
Teknologi IGDS dikembangkan oleh tim ilmuwan Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Sutiman Bambang Sumitro, bersama Prof. Widodo, Prof. Aulanni’am, dan Prof. Ahmad Sabarudin. Riset ini berangkat dari pemahaman bahwa banyak penyakit degeneratif—seperti stroke, kanker, Parkinson, dan demensia—memiliki akar masalah yang sama, yaitu hipoksia, atau kekurangan oksigen di tingkat sel.Menurut Kan Eddy, IGDS bekerja dengan mengantarkan gas dalam ukuran nano (sekitar 80–100 nanometer) langsung ke jaringan yang mengalami gangguan mikrosirkulasi. Dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari sel darah merah, nanobubble mampu menembus mikrokapiler yang menyempit atau tersumbat akibat inflamasi dan proses penuaan.
“Masalah utama banyak penyakit bukan semata kerusakan organ, tetapi terganggunya distribusi oksigen dan nutrisi ke sel. IGDS dirancang untuk menjawab masalah ini secara langsung,” ujar Kan Eddy dalam wawancara tersebut.
Pendekatan Multigas untuk Menjaga Homeostasis Sel
Berbeda dari terapi oksigen konvensional, IGDS menggunakan pendekatan multigas, termasuk oksigen dan hidrogen. Oksigen berperan sebagai sumber utama produksi energi sel (ATP), sementara hidrogen dikenal sebagai antioksidan selektif yang membantu menekan stres oksidatif akibat reaksi berlebihan oksigen di dalam tubuh.
Pendekatan ini dinilai penting karena oksigen, meskipun esensial bagi kehidupan sel, juga dapat memicu kerusakan jika tidak diimbangi oleh mekanisme pengendalian radikal bebas. Dalam konteks ini, hidrogen berperan menjaga keseimbangan redoks dan mendukung proses pemulihan seluler.
Dari Riset ke Komunitas: Model Gotong Royong
Seluruh kegiatan riset dan penerapan awal IGDS berlangsung dalam ekosistem RAHO Club, sebuah komunitas berbasis gotong royong yang kini telah memiliki lebih dari 21.000 anggota di berbagai wilayah Indonesia. IMI berperan sebagai pusat riset dan pengembangan ilmiah, sementara RAHO menjadi wadah penerapan riset secara sosial dan berkelanjutan.
Model ini memungkinkan riset dikembangkan secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada industri farmasi besar, sekaligus membuka akses terapi bagi masyarakat lintas latar belakang melalui skema subsidi silang.
Menuju Pengakuan Global
Teknologi IGDS telah memperoleh paten nasional dan saat ini berada dalam proses paten internasional atau Patent Cooperation Treaty (PCT) di bawah World Intellectual Property Organization (WIPO). Hasil international searching menunjukkan bahwa pendekatan serupa belum ditemukan sebelumnya, membuka peluang Indonesia menjadi salah satu pelopor global dalam bidang nanomedicine berbasis gas. IMI menegaskan bahwa seluruh riset terus dikembangkan secara bertahap dan bertanggung jawab, dengan pendekatan ilmiah serta etika riset yang ketat.
“Ini bukan sekadar teknologi, tetapi upaya membangun kedaulatan riset kesehatan Indonesia,” tegas Kan Eddy.
Dengan menggabungkan fisika nano, biologi molekuler, dan semangat gotong royong, Inovasi Molekuler Indonesia menempatkan diri sebagai motor penggerak inovasi kesehatan nasional yang berorientasi pada solusi ilmiah dan kebermanfaatan sosial.










Komentar