Membuat Pupuk Organik Cair untuk Masa Pembuahan (Generatif) yang Kaya Fosfat (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), dan Boron (B)

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap fase pertumbuhan tanaman memiliki kebutuhan unsur hara yang berbeda. Pada fase vegetatif, tanaman memerlukan nitrogen (N) dalam jumlah besar untuk membentuk daun, batang, dan tunas. Namun, ketika tanaman mulai memasuki fase generatif—ditandai dengan munculnya bunga, bakal buah, hingga pembesaran buah—kebutuhan haranya berubah. Pada tahap ini, unsur yang paling dibutuhkan adalah fosfat (P) dan kalium (K), yang didukung oleh unsur hara sekunder dan mikro seperti kalsium (Ca) dan boron (B).

Fosfat berperan dalam pembentukan bunga, perkembangan akar, serta transfer energi di dalam sel tanaman. Kalium membantu pembentukan dan pembesaran buah, meningkatkan kadar gula, memperbaiki warna, rasa, serta daya simpan hasil panen. Kalsium memperkuat dinding sel sehingga buah lebih padat dan tidak mudah pecah, sedangkan boron berperan penting dalam proses penyerbukan, pembentukan serbuk sari, pembuahan, dan distribusi gula ke buah.

Apabila salah satu unsur tersebut kurang tersedia, tanaman dapat mengalami bunga rontok, penyerbukan tidak sempurna, buah kecil, kualitas hasil rendah, bahkan gagal panen. Oleh karena itu, pemberian pupuk organik cair yang kaya akan P, K, Ca, dan B menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan tanah.

Selain lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk sintetis, pupuk organik cair juga mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dan memperbaiki struktur tanah dalam jangka panjang. Dengan memanfaatkan limbah organik yang tersedia di sekitar, petani dapat membuat pupuk berkualitas tinggi dengan biaya yang relatif murah.

Peran Unsur Hara pada Fase Generatif

Fosfat (P)

Fosfat merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan energi (ATP), pertumbuhan akar, pembungaan, dan pembentukan biji. Tanaman yang cukup fosfat umumnya berbunga lebih cepat, memiliki bunga lebih banyak, dan menghasilkan buah yang lebih seragam.

Gejala kekurangan fosfat antara lain:

  • Pertumbuhan lambat.
  • Daun tampak hijau tua atau keunguan.
  • Pembungaan terlambat.
  • Jumlah bunga sedikit.
  • Buah kecil dan jumlahnya berkurang.

Kalium (K)

Kalium mengatur keseimbangan air dalam tanaman, mengaktifkan berbagai enzim, memperlancar distribusi hasil fotosintesis, dan meningkatkan kualitas buah.

Manfaat kalium antara lain:

  • Mengurangi kerontokan bunga.
  • Memperbesar ukuran buah.
  • Meningkatkan rasa manis.
  • Memperbaiki warna buah.
  • Menambah ketahanan terhadap kekeringan.
  • Meningkatkan daya simpan hasil panen.

Kalsium (Ca)

Kalsium membentuk dinding sel yang kuat sehingga jaringan tanaman lebih kokoh. Pada buah, kalsium membantu mengurangi risiko pecah buah, busuk ujung buah (blossom end rot), dan memperpanjang umur simpan.

Tanaman yang kekurangan kalsium sering mengalami:

  • Ujung buah membusuk.
  • Buah mudah pecah.
  • Daun muda menggulung.
  • Pertumbuhan pucuk terhambat.

Boron (B)

Walaupun dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit, boron memiliki fungsi yang sangat penting pada fase reproduksi tanaman.

Boron berperan dalam:

  • Pembentukan serbuk sari.
  • Pertumbuhan tabung serbuk sari.
  • Keberhasilan pembuahan.
  • Pembentukan biji.
  • Distribusi gula menuju buah.
  • Pembentukan dinding sel baru.

Kekurangan boron dapat menyebabkan bunga rontok, buah cacat, bentuk buah tidak normal, dan hasil panen menurun.

Bahan Organik yang Kaya P, K, Ca, dan B

Berbagai bahan organik di sekitar kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara tersebut.

Baca Juga :  Membuat Pupuk Organik Cair untuk Masa Pertumbuhan (Vegetatif) yang Kaya Nitrogen

Sumber Fosfat (P)

  • Tulang ikan.
  • Tulang ayam.
  • Kepala ikan.
  • Sisa udang atau cangkang udang.
  • Tepung tulang hasil penggilingan.
  • Kotoran ayam yang telah matang.

Tulang mengandung fosfat alami yang akan terurai secara bertahap selama proses fermentasi.

Sumber Kalium (K)

  • Kulit pisang.
  • Air kelapa.
  • Sabut kelapa.
  • Abu sekam padi.
  • Abu kayu alami.
  • Kulit kentang.

Kulit pisang dan air kelapa merupakan bahan yang paling mudah diperoleh sekaligus kaya akan kalium.

Sumber Kalsium (Ca)

  • Kulit telur.
  • Cangkang kerang.
  • Cangkang kepiting.
  • Cangkang rajungan.
  • Tulang ikan.

Kulit telur mengandung kalsium karbonat yang sangat tinggi. Setelah dihancurkan halus dan difermentasi, kandungannya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman.

Sumber Boron (B)

Boron memang hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil dan kandungannya pada bahan organik tidak setinggi unsur makro. Namun beberapa bahan alami diketahui mengandung boron dalam kadar yang bermanfaat, antara lain:

  • Daun kelor.
  • Kulit pisang.
  • Rumput laut.
  • Air kelapa.
  • Kompos matang dari berbagai bahan tanaman.

Mengombinasikan beberapa bahan tersebut akan membantu menyediakan boron secara alami bagi tanaman.

Bahan-Bahan Pembuatan

Untuk menghasilkan sekitar 20 liter pupuk organik cair, siapkan bahan berikut:

  • 4 kilogram kulit pisang.
  • 2 kilogram tulang ikan atau kepala ikan yang dihancurkan.
  • 1 kilogram kulit telur yang telah dicuci, dikeringkan, lalu ditumbuk halus.
  • 2 kilogram sabut kelapa yang dicacah.
  • 5 liter air kelapa.
  • 1 kilogram daun kelor segar.
  • 500 gram gula merah atau molase.
  • 200 ml bioaktivator seperti EM4.
  • Air bersih hingga volume mencapai sekitar 20 liter.

Seluruh bahan tersebut saling melengkapi sehingga menghasilkan pupuk dengan kandungan unsur hara yang lebih seimbang.

Cara Pembuatan

1. Persiapan bahan

Potong kecil-kecil kulit pisang, daun kelor, dan sabut kelapa. Hancurkan tulang ikan menggunakan palu atau blender khusus hingga menjadi pecahan kecil agar lebih mudah terurai.

Kulit telur sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditumbuk hingga menjadi serbuk halus.

2. Menyiapkan larutan fermentasi

Larutkan gula merah ke dalam air hangat hingga mencair. Setelah dingin, campurkan dengan air kelapa, bioaktivator, dan sebagian air bersih.

3. Proses fermentasi

Masukkan seluruh bahan organik ke dalam drum plastik.

Tuangkan larutan fermentasi hingga seluruh bahan terendam.

Aduk hingga tercampur merata.

Tutup rapat wadah fermentasi.

Setiap dua atau tiga hari sekali, buka tutup wadah selama beberapa detik untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi apabila menggunakan wadah yang benar-benar kedap udara.

4. Lama fermentasi

Fermentasi berlangsung selama 21–30 hari.

Waktu yang sedikit lebih lama dibandingkan pupuk berbahan daun diperlukan karena tulang dan kulit telur membutuhkan proses penguraian yang lebih panjang.

Ciri-Ciri Pupuk Telah Matang

Pupuk organik cair yang telah selesai difermentasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Warna cokelat tua hingga hitam.
  • Aroma asam segar seperti tape atau buah yang difermentasi.
  • Tidak berbau busuk menyengat.
  • Tidak terdapat jamur hitam yang berlebihan.
  • Cairan tampak lebih jernih setelah endapan mengendap.
Baca Juga :  The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone

Setelah fermentasi selesai, saring cairannya menggunakan kain halus agar mudah diaplikasikan menggunakan sprayer.

Cara Penyimpanan

Simpan pupuk di dalam jerigen plastik atau botol yang tertutup rapat. Letakkan di tempat teduh, sejuk, dan tidak terkena sinar matahari langsung.

Dengan penyimpanan yang baik, pupuk dapat bertahan selama enam hingga dua belas bulan tanpa kehilangan kualitas secara berarti.

Cara Aplikasi

Sebelum digunakan, pupuk harus diencerkan.

Dosis yang dianjurkan adalah:

  • 20–30 ml pupuk per 1 liter air untuk penyemprotan daun.
  • 50–100 ml pupuk per 10 liter air untuk penyiraman di sekitar perakaran.

Penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore hari setiap 7–10 hari sekali sejak munculnya bunga hingga menjelang panen.

Untuk tanaman buah tahunan seperti mangga, durian, jeruk, atau jambu, aplikasi dapat dimulai sejak fase pembentukan bunga dan dilanjutkan hingga buah berkembang.

Tanaman yang Cocok Menggunakan Pupuk Ini

Pupuk organik cair kaya P, K, Ca, dan B dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman generatif, antara lain:

  • Cabai.
  • Tomat.
  • Terong.
  • Mentimun.
  • Semangka.
  • Melon.
  • Anggur.
  • Jeruk.
  • Mangga.
  • Durian.
  • Rambutan.
  • Jambu biji.
  • Jambu air.
  • Pepaya.
  • Pisang.
  • Kopi.
  • Kakao.
  • Stroberi.
  • Padi pada fase pembentukan malai.
  • Jagung saat pembentukan tongkol.

Keunggulan Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair memiliki banyak keunggulan dibandingkan pupuk anorganik apabila digunakan sebagai pelengkap program pemupukan.

Beberapa keunggulannya meliputi:

  • Memanfaatkan limbah organik menjadi produk yang bernilai.
  • Mengurangi biaya pembelian pupuk.
  • Meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
  • Memperbaiki aktivitas mikroorganisme tanah.
  • Memperbaiki struktur dan daya simpan air tanah.
  • Mengurangi risiko pencemaran lingkungan.
  • Mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
  • Meningkatkan kualitas hasil panen secara alami.

Perlu dipahami bahwa kandungan unsur hara dalam pupuk organik cair sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku, proses fermentasi, dan cara penyimpanannya. Oleh karena itu, pupuk ini sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pemupukan terpadu. Untuk tanaman dengan kebutuhan hara tinggi, pupuk organik cair dapat dikombinasikan dengan kompos, pupuk kandang yang telah matang, atau sumber hara mineral alami sesuai kondisi tanah dan hasil analisis lahan.

Pupuk organik cair yang kaya fosfat (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan boron (B) merupakan pilihan yang sangat baik untuk mendukung fase generatif tanaman. Kombinasi keempat unsur tersebut membantu meningkatkan keberhasilan pembungaan, memperbaiki proses penyerbukan, mengurangi kerontokan bunga dan buah, memperbesar ukuran buah, meningkatkan rasa serta kualitas hasil panen, sekaligus memperkuat jaringan tanaman agar lebih tahan terhadap kerusakan.

Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti kulit pisang, tulang ikan, kulit telur, sabut kelapa, air kelapa, dan daun kelor, setiap petani dapat menghasilkan pupuk organik cair yang ekonomis, ramah lingkungan, dan bermanfaat bagi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Jika diproduksi dan diaplikasikan secara konsisten, pupuk ini tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga menjadi bagian dari praktik pertanian yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel oetama.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Hewan yang Benar
Membuat Pupuk Organik Cair untuk Masa Pertumbuhan (Vegetatif) yang Kaya Nitrogen
Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix
The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone
From Farm to Table: The Journey of Food and its Impact on Our Health and the Environmen
Sustainable Tourism in Bali: Balancing Preservation and Growth
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:21 WIB

Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Hewan yang Benar

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:18 WIB

Membuat Pupuk Organik Cair untuk Masa Pembuahan (Generatif) yang Kaya Fosfat (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), dan Boron (B)

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:15 WIB

Membuat Pupuk Organik Cair untuk Masa Pertumbuhan (Vegetatif) yang Kaya Nitrogen

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:10 WIB

Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix

Selasa, 28 Maret 2023 - 23:44 WIB

The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone

Berita Terbaru

Pertanian

Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Hewan yang Benar

Minggu, 5 Jul 2026 - 21:21 WIB