Oleh: Afif Syairozi*
Pidato Presiden Prabowo dalam penutupan Munas dan Konbes NU 2026 di Bangkalan-Madura sangat menarik untuk dicermati. Dalam pidato tersebut, Presiden bisa dibilang sedang mengadukan atau melaporkan situasi yang dihadapi Indonesia kepada para Ulama.
Prabowo merasa sangat perlu untuk menyampaikan apa adanya kondisi Indonesia sekarang, terkhusus kepada para Ulama’. Ulama adalah panutan dan penuntun umat. Posisi ulama sangat penting bagi rakyat dan umat.
Sebab itu Prabowo seakan sangat perlu hadir ditengah-tengah pertemuan besar Ulama’ NU tersebut. Peran ulama dalam berbangsa dan bernegara sangat besar. Terutama melawan penjajahan dan ketidakadilan.
Sejarah Indonesia sudah membuktikan. Peran ulama dalam mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan dan turut mendirikan Negara Republik Indonesia .
Pidato Presiden di Bangkalan itu, seperti mengulang sejarah kembali. Sama seperti Presiden Soekarno yang meminta fatwa kepada Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari tentang hukum mempertahankan kemerdekaan.
Peristiwanya memang tidak sama persis, tetapi memiliki persamaan yang kuat. Penjajahan dahulu menggunakan fisik, penjajahan saat ini tanpa kontak fisik “penjajahan Proxy”. Penjajahan melalui sistem ekonomi, sistem politik dan sistem pendidikan.
Presiden Prabowo barangkali sudah dalam posisi butuh bantuan banyak pihak, untuk menghadapi ancaman yang serius terhadap kedaulatan Indonesia. Sebelum makin banyak anak bangsa diracuni oleh kapitalisme global, dijadikan Proxy-proxy penjajahan.
Semua unsur harus bersatu mempertahankan Kedaulatan Indonesia. Syaratnya seluruh komponen bangsa harus mengerti betul-betul apa yang mengancam masa depan-nya. Dalam hal ini posisi Ulama’ sangat penting sebagai penghubung informasi tersebut. Karena Ulama’-lah yang paling dekat dengan umat dan rakyat.
Karena itu, Prabowo menceritakan sekaligus melaporkan ancaman-ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini kepada Ulama’. Sama persis dengan Presiden Soekarno yang mengadu kepada KH Hasyim Asy’ari atas ancaman Kedaulatan Indonesia. Akhirnya lahirlah Resolusi Jihat 22 Oktober 1945.
Resolusi Jihat itu yang menjadikan meletusnya pertempuran 10 November 1945 yang heroik itu. Para santri, rakyat dan pejuang tanpa ragu bersatu melawan ancaman Kedaulatan Indonesia.
Secara kekuatan fisik, kita kalah. Tetapi kehendak yang kuat, keinginan yang luhur dan persatuan yang kuat, menjadikan kita menang dalam pertempuran besar itu. Dan kehendak yang kuat, keinginan yang luhur dan persatuan adalah jiwa dari Resolusi Jihad.
Situasi sekarang, Indonesia mengalaminya kembali. Ancaman hilangnya Kedaulatan Indonesia sangat besar. Kekayaan Alam Indonesia dirampok besar-besaran. Indonesia dijadikan ladang kemakmuran segelintir orang dan kapitalisme global.
Presiden Prabowo sudah menyampaikan ancaman-ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini, di hadapan para Ulama’. Kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri, Pemerintahan yang korup dan sistem ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat.
Prabowo secara tegas dihadapan ulama. Pemerintahannya sedang melawan itu semua. Dan secara diam-diam sebetulnya ingin mendapat dukungan memenangkan peperangan besar itu.
Prabowo sadar, tidak akan mampu melawannya sendiri. Kekuatan besar itu hanya dapat dikalakan bila kita bersama-sama lagi melawannya. Kekuatan yang dapat menyatukan kita semua ialah Resolusi Jihad 2026 dari Ulama.
Resolusi Jihad yang lahir dari keinginan luhur melawan Penjajahan Kapitalisme Global yang menghisap Kekayaan Alam Indonesia. Maka Rahmat Allah yang maha kuasa akan menuntun kita semua bersatu padu melawan penjajahan gaya baru itu.
Kamis, 25 Juni 2026
*Founder Oetama Strategic Issue










Komentar